Tuesday, January 1, 2019

REVIEW FILM: MILLY & MAMET - GEMESNYA KEHIDUPAN SEHARI-HARI PASANGAN BIASA

Genre: Family, comedy
Movie year: 2018
IMDb rating: 7.7/10

Sinopsis:
Mamet (Dennis Adhiswara) selalu ingin jadi sosok yang dihormati banyak orang dan dikagumi semua teman-teman lamanya setiap kali datang reuni, seperti reuni SMA yang kali ini dia hadiri. Apa daya bahwa Mamet tetaplah Mamet. Hampir semua teman lama yang dia temui berpendapat bahwa Mamet sama sekali tidak mengalami perubahan seperti sosoknya waktu SMA.

Di reuni SMA, Mamet bertemu kembali dengan geng Cinta (Dian Sastro) dan berbincang mengenai masa SMA mereka yang terlewat termasuk dengan Milly (Sissy Pricillia). Milly nampak berbincang dengan seorang lelaki bernama Rama (Surya Saputra) yang rupanya pacar Milly. Rama mengatakan bahwa dia harus pulang duluan dan berpesan agar Milly pulang ke rumah sendiri dengan naik Taxi. Tanpa menunggu jawaban Milly lebih lanjut, Rama langsung pergi. Tinggallah Milly yang manyun karena harus pulang sendiri, Mamet menyapanya dan mengulurkan kue coklat. Milly merasa betenya terobati setelah berbincang dengan Mamet dan memutuskan untuk menerima tawaran pria itu untuk mengantarnya pulang.

Melihat mobil yang dibawa Mamet setiba diparkiran, Milly heran sendiri. Mobil yang dipakai Mamet masih mobil yang sama yang dulu dipakainya di SMA. Dengan sangsi Milly naik karena khawatir mobilnya itu mogok.

"Nggak apa-apa kok," kata Mamet meyakinkan, meskipun kenyataannya mereka malah harus berhenti di tengah jalan menunggu tukang service mobil sampai karena mobil itu mendadak mogok. Terpaksa mereka duduk di pinggir jalan menunggu tukang service yang datang.

Sembari menunggu tukang service datang, Milly dan Mamet berbincang tentang keadaan mereka masing-masing saat ini. Milly bekerja di sebuah bank sementara Mamet bekerja di bidang kuliner. Selepas SMA dia sempat kuliah di bidang IT sebelum ayahnya jatuh sakit, Mamet bertekat untuk membuat makanan yang sehat untuk ayahnya dengan rasa tetap enak. Setelah berhasil, Mamet terus memasak makanan sehat untuk ayahnya hingga beliau menghembuskan nafas terakhir. Menyadari ternyata makanan adalah passionnya, membuat Mamet untuk memutuskan mengubah jalur pendidikannya di bidang food and beverages dan bekerja dalam bidang yang sama sampai saat ini.

"Lo hebat ya Met," komentar Milly
"Kenapa? Karena gue yatim?" tanya Mamet
"Bukan, tapi karena lo bekerja berdasarkan sesuatu yang memang lo cintai," buru-buru Milly menjelaskan, sambil tertawa. Ada sisi lain dalam diri Mamet yang membuatnya bertahan duduk di pinggir jalan bersama lelaki itu, tanpa ingin memesan taxi maupun ajakan untuk semobil dengan Cinta dan Karmen.

Siapa sangka bahwa insiden mogoknya si Gatot - mobil antik Mamet kemudian semakin mendekatkan mereka. Kilasan timeline berlanjut ke kedekatan Milly dan Mamet, lamaran, pernikahan, kehamilan dan kelahiran seorang bayi lucu bernama Sakti.

Milly memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga setelah Sakti lahir, sementara karena ada masalah di pabrik milik Papa Milly (Roy Marten), Mamet terpaksa berhenti dari karirnya sebagai Chef dan membantu usaha Papa Milly sebagai kepala pabrik yang tidak percaya pada orang asing untuk menghandle pabrik kesayangannya.

Tapi rupanya kondisi ini tidak lepas dari masalah. Papa Milly yang belum sepenuhnya mempercayai keputusan Mamet sehingga sering berselisih pendapat dengan menantunya dan Milly yang biasa sibuk menjadi hampa karena aktivitasnya lebih banyak di rumah dan mengurus Sakti dengan asisten rumah tangga yang masih muda dan polos bernama Sari (Afifah). Mamet yang sibuk bekerja membuat kebutuhan Milly untuk ngobrol dan berinteraksi dengan sesama orang dewasa kurang dapat terpenuhi, kecuali jika tetangga sebelah rumahnya Jojo (Eva Cellia) mampir bertandang ketika tidak sedang bekerja. Milly jadi ingin bekerja kembali.

Passion Mamet juga tidak berubah, meskipun sehari-hari mengurus pabrik konveksi, Mamet melampiaskan passionnya dalam memasak dengan memasak di rumah dan membawa makanan untuk anak buahnya di kantor. Sampai kemudian Mamet bertemu dengan teman lamanya Alex (Julie Estelle) yang memiliki mimpi yang sama dalam mendirikan restoran makanan sehat dengan harga terjangkau. Alex mengajak Mamet mewujudkan mimpi mereka itu, saat ini hal itu mungkin karena Alex sudah punya kandidat investornya.

Tentu saja Mamet tertarik dengan ide itu, tapi ini membuatnya bingung dan serba salah karena masih harus bekerja di pabrik. Terlebih bagaimana menjelaskannya pada Milly?

Seiring berjalannya rumah tangga mereka, Milly dan Mamet dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membuat mereka harus mengambil keputusan terbaik dari situasi yang mereka hadapi.
Kata Ninda:
Dari semenjak teasernya ada di media sosial, saya sudah pengin banget nonton film ini. Film AADC 2 bikin saya suka banget sama dua karakter yang diperankan oleh Sissy Pricillia dan Dennis Adhiswara ini, apalagi ketika tahu Ernest yang menyutradarai film ini. Tambah penasaran. Karena saya terkesan dengan film garapan Ernest yang pernah saya tonton sebelumnya: Cek Toko Sebelah. Ceritanya cukup sederhana dan nggak over dramatis, related banget dengan kehidupan sehari-hari. Diselipin sama humor-humor receh tapi seger pula.

Ditambah dengan aktingnya Sissy di AADC 2 yang keceee banget parah, natural dan gemasss! Karakter Milly adalah karakter yang paling mencuri perhatian saya di AADC 2 karena tingkahnya yang polos dan rame dan jujur, bikin saya hampir selalu ngakak setiap dia muncul dalam scene.

Berbeda dengan pokok cerita Rangga-Cinta yang berkisar dengan percintaan dan galau-galaunya, Milly Mamet adalah film keluarga dengan segala konfliknya. Bukan konflik besar sebenarnya tapi feel-nya cukup kuat bahwa rumah terbaik adalah keluarga yang bahagia. Aman untuk ditonton bareng keluarga dan hampir semua umur juga.

Banyak pemeran pendukung yang basic-nya dari comic, seperti Ardit, Aci, Bintang dan banyak lagi yang ternyata aktingnya nggak zonk juga dan bisa masuk dengan natural dalam scene film. Dulu sering riwa-riwi sebagai pemain sinetron antagonis, FTV dan film sebagai karakter protagonis, ini adalah film kedua dimana saya menyaksikan Dinda Kanyadewi memerankan karakter kocak yang absurd. Yang pertama sih di film-nya Raditya Dika yang ala-ala thriller comedy itu loh, Target kalau ga salah judulnya.

I can say Ernest dan Meira sukses dalam project film keluarga mereka yang setahu saya so far, ini yang kedua. Ditengah film ada cameo Sky dan Snow yang bermain naik macan-macanan di mall. Saya sempat nonton sih film Ngenest dan film Comic yang projectnya Ernest juga, tapi menurut saya secara personal sih... Ernest ini cocok banget buat bikin film bertema keluarga. Feelnya entah kenapa selalu dapet banget. Kalau tema lain serasa soul dia kurang terpancar gitu sepertinya, lagi-lagi menurut saya sebagai penonton awam yang suka nonton film.

Well ngga akan ragu buat nonton next project Ernest yang bertema family juga, kalau untuk tema lain kayaknya saya masih mikir-mikir soalnya belum begitu menarik minat saya sih.

Overall, film ini kece banget dan wajib tonton buat yang pengen nonton film ringan lucu di bioskop bareng keluarga mumpung liburan.

1 comment:

  1. No doubt. Film Ernest selalu bagus untuk dijadikan hiburan bersama keluarga. Ernest udah ketemu segmen pasarnya kayaknya hehe.

    ReplyDelete