Tuesday, March 6, 2018

REVIEW FILM: THE GREATEST SHOWMAN

Movie year: 2018
Genre: Drama, romance
Rating:
IMDb: 8/10
Rotten tomatoes: 55%

Sinopsis:
P.T. Barnum adalah seorang anak laki-laki biasa dengan ayah yang bekerja sebagai seorang penjahit. Namun P.T. Barnum yang berasal dari keluarga biasa menjadi dekat dengan Charity, anak perempuan dari keluarga kaya raya dari kalangan atas. Tentu saja Barnum tidak diperbolehkan bergaul dengan Charity hingga Charity dikirim untuk menempuh pendidikan di luar kota dan meninggalkan rumahnya yang megah.

Siapa sangka jika kedekatan keduanya justru semakin intens dan leluasa melalui surat-surat yang saling dikirimkan diantara mereka bahkan hingga dewasa. Setelah dewasa suatu hari, Barnum memberanikan diri untuk datang ke rumah keluarga Charity yang mewah dan besar untuk menjemput dan menikahinya. Sang ayah berkata bahwa nanti suatu saat Charity tentu akan lelah dengan hidup mereka yang sederhana dan miskin, lantas akan kembali ke rumah itu lagi. Barnum tetap tersenyum karena Charity sedang menuruni tangga membawa tas besar dan mereka pergi bersama dari rumah itu untuk membangun hidup mereka berdua. Disebuah petak rumah susun di tengah kota mereka membangun keluarga dan memiliki dua orang anak perempuan.

Barnum bekerja di sebuah perusahaan pelayaran, tanpa diduga suatu hari saat ingin menyatakan idenya terkait kemajuan perusahaan tiba-tiba atasannya menyela untuk memberi pengumuman. Dan bersama pengumuman itu atasannya itu memberhentikan seluruh karyawan dalam satu waktu karena perusahaan bangkrut. Kapal mereka karam dan tenggelam saat dalam perjalanan pelayaran. Barnum tertegun, ini bukan hidup yang dia janjikan pada Charity.
Barnum pulang dengan lelah dan menemukan anak istrinya sedang berada di lantai atas untuk menjemur pakaian. Meskipun menjalani hidup jauh berbeda dengan kehidupannya sejak lahir, namun Charity tampak bahagia dan tidak merasa keberatan melakukan pekerjaan rumah tangga karena sudah terbiasa melakukan semuanya saat menempuh sekolah jauh dari orang tuanya.
Dengan sedih Barnum memberitahukan kepada Charity bahwa saat ini dia seorang pengangguran, tapi percakapan mereka berdua bersama kedua putri mereka menghasilkan ide baru di kepala Barnum untuk menghasilkan uang.

Barnum meminjam uang dari bank dalam jumlah besar dan membeli sebuah museum tua di pusat kota. Dia merekrut pegawai untuk menjual tiket dan bersama anak-anak istrinya mengedarkan selebaran tentang museumnya itu, namun tidak ada satupun tiket terjual pertanda tidak ada satupun orang yang tertarik masuk ke dalamnya. Hari terus berganti dan masih sepi, tidak ada penghasilan masuk.

Kedua putri Barnum mengakui bahwa museum itu tampak mati dan membosankan, Ayah mereka perlu memperbaiki itu agar pengunjung berminat. Barnum berpikir sejenak. Dan besoknya dia memajang spanduk lowongan untuk merekrut pegawai-pegawai baru yang dia butuhkan untuk ide terkait museumnya. Antrian memanjang di depan museum dengan segera oleh orang-orang yang merasa memenuhi kriteria Barnum dan membutuhkan pekerjaan.

Konsep baru museum segera di promosikan melalui poster-poster lebar dan pampangan selebaran di tempat-tempat ramai orang lalu lalang. Diluar dugaan, pengunjung banyak dan mereka menyukai apa yang disajikan Barnum dalam museumnya, di dalam mereka terlihat tertawa senang dan nampak jauh lebih bahagia ketika keluar dari museum itu ketimbang saat masuk.

Dalam sekejap, museum Barnum dibicarakan dari mulut ke mulut dan menjadi terkenal. Penjualan tiket selalu bagus dan hampir selalu habis karena orang-orang selalu menunggu ide segar Barnum. Namun meskipun dikenal sebagai konsep hiburan yang sukses dan memiliki banyak uang, Barnum dan museumnya tetap saja dinilai berasal dari kelas bawah dengan hiburan yang tidak mendidik.
Lagipula saat kesuksesas sedang datang dengan begitu gencarnya, bukankah kita harus memiliki persiapan akan kejatuhan? Apa yang menunggu Barnum saat kesuksesannya mengundang pujian dan makian sekaligus? Nonton yuk! :D

Kata Ninda:
Sama sekali nggak sengaja bahkan terencana ketika nonton film ini. Saya nggak niat nonton sebenernya, cuma perlu beli sesuatu di mall dan pengen banget minum coffee rocksalt and cheese di salah satu counter minuman di mall.

Eh kok paksu pengin banget nonton, ya sudah nontonlah kami. Saya nggak kebayang pengen nonton apa tapi paksu udah tahu apa film yang pengin dia tonton. Ternyata telat sih booking tiketnya, sementara pemutaran film berikutnya masih rada lama. Saya ngusulin buat nonton ini, meskipun paksu rada keberatan karena katanya film musikal dan dia pasti deh ngantuk, kalau saya sih kayaknya bakalan suka. Saya ngomong kalau sebenernya saya nggak demen film musikal, cuma saya biasanya mengabaikan musikalnya kalau ceritanya bagus. Gitu sih. Jadi yang terpenting buat saya dalam film adalah plot ceritanya.

Pengennya nonton film apa gitu lupa. Tapi pas kami mau beli tiket, jam tayangnya udah kelewat jauh. Akhirnya saya ngajakin dia nonton The greatest showman ini. Eh ternyata film ini adalah film yang menurut saya masuk dalam golongan film niat. Niat di settingnya yang vintage banget, kostum-kostumnya, plot cerita yang sebenarnya sih sederhana ya. Dan semua kondisi di set untuk tampak pas, terlihat berlebihan ketika memang seharusnya nampak demikian dan terlihat biasa saja jika memang seharusnya nampak biasa.

Plot cerita sederhana maksud saya adalah fase-fase khas ini: fase usaha keras berbuah manis - fase rintangan dan kejatuhan - fase bangkit kembali.

Ada satu potongan cerita yang membuat saya mikir sangat berpotensi untuk related dengan our nation latest issue terkain pelakor dan sesuatu yang nampak opera sabun indonesia banget. Meskipun pada akhirnya tentu saja enggak dan beda. Pasti saya bakalan sebel banget kalau ceritanya berbelok tajam mirip sinetron atau serial oh mama oh papa *LOL. But it's not so let's say script writternya masih cukup cerdas untuk nggak melakukan itu :p

Suami yang semula mikir kalau film ini bukan film buat dia malah menikmati waktu nonton kami karena bertaburan lagu-lagu bagus yang cuco di kuping dia dan nggak jadi ngantuk. Memang sih film yang satu ini punya soundtrack yang bagus-bagus dan hingga saat ini masih berada di puncak track-track favorit di tangga musik Apple dengan perbandingan playlist semua penggunanya diseluruh dunia. Jadi emang beneran bagus ya kan?

Soundtrack dari film ini juga kebanyakan memang benar-benar dinyanyikan oleh masing-masing karakter dalam film. Terus terang saya baru tahu kalau Zendaya nyanyinya bagus, kalau Zac Efron sih udah nggak heran ya. Lagu 'this is me' juga jadi hits dimana-mana. Saya juga suka karena it's means so much. Terutama bagi kita yang merasa berbeda dengan apapun yang kita miliki dari berbagai sisi baik fisik, pilihan hidup, hobi, bakat, apapun.

Meskipun harus saya katakan bahwa rada kontra sih lagu yang sebagus dan secatchy itu dengan scene keseluruhan film yang vintage bener. Ini menurut saya sih, sebagai orang awam yang sebenernya nggak ngerti-ngerti banget juga soal musik.

Hehe menurut kamu gimana?

No comments:

Post a Comment